Home » , » Tanda-tanda Resesi Ekonomi Mulai Terlihat di Banyak Tempat

Tanda-tanda Resesi Ekonomi Mulai Terlihat di Banyak Tempat

Written By adek on Jumat, 15 Juni 2012 | 04.25

Jakarta - Apakah dunia sudah masuk resesi global, hanya saja kita belum menyadarinya? Berharap saja tidak, tapi tanda-tanda peringatan sudah kelihatan di mana-mana. Ekonomi Uni Eropa kembali terpuruk. Ketidakpastian politik Yunani mungkin bisa memaksa mereka keluar dari Uni Eropa. Simpanan di bank-bank Yunani terus ditarik keluar dan pembekuan kredit di Eropa bukan tak mungkin akan terjadi. Sementara negara ekonomi berkembang seperti China, India dan Brazil mulai terseok-seok. Sementara di Amerika, mantan ahli strategi Clinton, James Carville dan Stan Greenberg mengirim memo untuk Presiden Obama. Isinya, pemberitahuan bahwa pesan kampanyenya tentang kemajuan pemulihan yang lambat dan stagnan tidak menyentuh seluruh rakyat AS. Pernyataan Obama bahwa 'sektor swasta baik-baik saja' hanya sebagian dan tidak mengena dengan realita ekonomi yang sesungguhnya. Kenyataannya sungguh tidak baik, coba lihat analisa dari CNBC (15/6/2012) berikut ini: Pertumbuhan lapangan kerja menurun drastis dalam tiga bulan terakhir. Penjualan ritel dan order pabrik turun dua bulan berturut-turut. Pendapatan sektor riil datar. Kekayaan rumah tangga anjlok lebih jauh dibandingkan saat properti kolaps, turun hampir 40% dalam tiga tahun terakhir. GDP AS hanya mencapai 1,9% di triwulan pertama 2012. Nyaris semua ekonom terkemuka Wall Street mengurangi perkiraan triwulan kedua mereka menjadi 2% bahkan kurang. Ini kunci utamanya: pertumbuhan 2% bukanlah pemulihan. Banyak ekonom yang malah menyebutnya sebagai resesi pertumbuhan. Ketika mencapai level serendah itu, hanya sedikit margin untuk kesalahan. Kejutan dari Eropa, penjualan inventori di AS atau kejadian tak terduga apa pun bisa menjebloskan AS kembali ke teritori resesi ganda. Jadi, apa pertolongan terakhir untuk AS? Penjualan bisnis dan laba masih cukup tinggi, namun profit yang diukur dari GDP jatuh di triwulan pertama. Inilah yang harus diawasi. Apalagi, sebuah polling IBD terbaru menunjukkan jumlah rumah tangga dengan setidaknya satu orang mencari kerja mencapai 23%. Ini setara dengan 30 juta orang yang mencari kerja. Apalagi rata-rata laju pertumbuhan hanya separuh dibandingkan pasca pemulihan Perang Dunia II. Hanya ada dua alasan utama memburuknya ekonomi baru-baru ini. Pertama, dampak dari kenaikan inflasi yang cukup tajam, hampir 10% dari nilai tukar relatif dolar terhadap euro. Ini berpengaruh terhadap deflasi ekonomi, di mana impor dan harga produsen baru-baru ini berubah negatif. Sisi baik dari deflasi komoditas adalah, harga minyak dan gas retail turun jauh. Sisi buruknya, manufaktur mungkin menahan produksinya dan debitur harus berjuang mati-matian keluar dari lubang yang lebih dalam. Alasan kedua memburuknya ekonomi AS adalah kuatnya dolar AS tidak diiringi dengan tingkat pajak yang lebih rendah. Model pertumbuhan sisi persediaan yang asli meminta dolar kuat dan pajak lebih rendah. Sementara model yang dulu adalah menjaga kestabilan harga-harga dan kemudian menyediakan insentif pertumbuhan segar. Tapi bukannya mempermudah, pajak malah naik gila-gilaan. Masalah besar, model salah, anti pertumbuhan. Seiring pemotongan pajak era Bush kadaluwarsa di akhir tahun, demikian juga pemotongan pajak penghasilan sementara dan tambahan pajak minimum alternatif. Menurut perkiraan, sekitar US$ 400 miliar tunai akan keluar pada 2013, seiring dengan kemunduran insentif berorientasi pertumbuhan dan tingkat pajak marjinal. Sulit untuk mengukurnya, tapi ada kemungkinan rencana penerimaan kerja dan ekspektasi belanja konsumen ditahan dulu hingga masyarakat bisa memperkirakan kebijakan pajak di masa depan. Inilah mengapa permasalahan pajak harus segera diselesaikan segera. Jika pemotongan pajak diperpanjang lebih cepat, ekonomi mungkin bisa pulih lebih cepat dari yang masyarakat pikirkan. Namun jubir White House John Boehner mengatakan, dia sudah siap bicara dengan Presiden Obama hanya saja tidak tersambung. Ketika Republikan White House mengharapkan bisa meloloskan perpanjangan pemotongan pajak bulan depan, hal itu tidak akan terjadi tanpa dukungan dari White House. Sayangnya, presiden masih terus bicara tentang kenaikan pajak untuk orang-orang kaya. Seharusnya Obama coba mendengar Bill Clinton yang ngotot memperjuangkan pemotongan pajak penuh untuk menghentikan resesi. Jika dia menunggu hingga pemilu selesai baru membuat keputusan tentang pajak, mungkin AS akan menghadapi ketidakpastian dan kekacauan yang semakin mendekatkan mereka pada resesi.
Share this article :

Posting Komentar